Desain Itu Penting
Oleh : Hendro Tri Rachmadi
(Art Director Simple Studio)
Membuat kartu nama adalah perkara yang “sederhana”. Kita cukup mencantumkan logo, nama, alamat perusahaan dan nama si karyawan beserta posisinya di kartu nama tersebut. Namun disadari atau tidak, benda “sesederhana” tersebut ternyata mencerminkan citra dari perusahaan tersebut.
Seorang CEO sebuah perusahaan piranti pendidikan pernah menyatakan ketidakpuasannya kepada saya tentang desain kartu nama perusahaannya. Desain itu dibuat oleh seorang “desainer” yang dikenalnya. Entah kenapa ada yang membuat dia “kurang sreg” dengan desain tersebut. Kesannya kurang elegan menurutnya. Namun secara jujur dia mengatakan belum menemukan “faktor” yang membuatnya tidak elegan. Padahal menurutnya, desain tersebut sudah “menarik” dengan memainkan banyak gambar, warna-warna dan beberapa efek photoshop.
Setelah saya analisis sebentar, saya memberi kesimpulan kepadanya bahwa desain tersebut “terlalu ramai” sehingga malah terkesan norak. Belum lagi font yang dipilih adalah comic sans, yang membuatnya jadi semakin parah. Setelah diminta bantuan oleh CEO tersebut, saya buatkan dia desain kartu nama yang baru.
Desain yang saya buat justru jauh lebih sederhana dari desain sebelumnya. Saya hanya memainkan unusr grafis berupa garis dan kotak. Tetapi memang, font-nya saya pilih yang formal dan elegan. Serta penempatan yang hati-hati. Dan sebagai hasilnya dia puas sekali dengan desain tersebut. Walaupun tentunya dia harus merogoh kocek lebih mahal daripada sebelumnya. (Dia sempat kaget dengan harga yang saya minta sebelumnya).
Dalam realita, kita berhubungan dengan banyak desain : kop surat, banner, majalah, buku, koran, web, product packaging, dan masih banyak lagi. Dengan mudah kita bisa membedakan antara koran yang berkualitas dengan “koran murahan”. Atau membedakan antara kop surat perusahaan “kacangan” dengan perusahaan yang bonafide. Semua seakan sesederhana hanya dengan melihat dari tampilan luarnya.
Oleh karena itu jika masih ada orang yang belum menghargai desain dengan semestinya maka bersiap-siap akan kalah dalam persaingan. Sebab dia sudah meremehkan salah satu faktor terpenting untuk memenangkan persaingan tersebut. Dan pada akhirnya dia menjadi bagian yang teremehkan…
_______________________________________________________________
Desain Gitu Aja Kok Mahal
Oleh : Hendro Tri Rachmadi
(Art Director Simple Studio)
Seorang calon klien pernah menyatakan kekagetannya ketika melihat angka yang saya tawarkan untuk membuat sebuah brosur. Dia lalu memperlihatkan sebuah brosur yang di desain oleh temannya yang harganya “hanya” seperdelapan dari harga yang saya tawarkan. Tetapi setelah saya lihat baik-baik memang ada banyak sekali kekurangan dalam brosur tersebut. Mulai dari pemakaian efek yang berlebihan, penggunaan ilustrasi yang tidak tepat, sampai pemilihan warna “yang saling membunuh”. Coba anda bayangkan tulisan dengan text banyak, warna font-nya hitam pada background biru agak gelap. Bikin pusing saja waktu membacanya. Desain tersebut sangat tidak cocok dengan sasaran customer perusahaan tersebut yang membidik kalangan menegah atas.
Pada kesempatan lain, seorang klien juga terkaget-kaget dengan angka yang saya ajukan, “Masa untuk kartu sekecil itu saya harus bayar semahal ini?”. Tetapi setelah diyakinkan, akhirnya dia setuju. Dan setelah melihat hasilnya dia menyatakan sangat puas dengan hasil tersebut, karena desain tersebut bisa meningkatkan citra perusahaannya dan jumlah customernya semakin hari semakin banyak saja. (bisnis klien tersebut bergerak pada bidang keuangan).
Ada lagi klien dari institusi pendidikan yang mencoba jasa desain grafis. Seperti biasa, dia agak kaget dengan angka yang saya minta, tetapi akhirnya dia setuju juga (bisa juga dia setuju, karena bukan dia yang harus mengeluarkan budget, tapi tempatnya bekerja, jadi dia cuek saja, he he). Waktu itu dia mendesain sebuah Buku Panduan di institusi tersebut. Sebelum-sebelumnya desain cover buku tersebut “sangat sederhana” sekali. Cuma tulisan saja. Itu pun pemilihan font-nya “jadul” (jaman dulu-red).
Setelah desainnya jadi, dia menyatakan sangat puas dengan hasil tersebut. Bahkan saking puasnya, dia memamerkan buku panduan dengan desain baru tersebut ke bagian lain di institusi tersebut. Bahkan dia juga memamerkannya ke “penerbit lamanya”. Dan akibat rekomendasi tersebut, saya ketiban untung juga, karena datang pesanan lain dari bidang yang berbeda dari institusi tersebut.
Begitulah cerita tentang desain. Masih banyak orang yang belum menghargai pentingnya. Tetapi kebanyakan dari mereka yang mau membuka diri terhadap hal-hal baru maka efek desain tersebut akan terasa bagi kemajuan bisnis/institusi tempatnya bekerja. Dan orang-orang tersebut yang pada akhirnya siap untuk bersaing di masa mendatang.
__________________________________________________________________
Butuh Jasa Desain Grafis?
Segera hubungi kami di :
021-7097-2283 atau 0815-955-4548
Dan kami akan datang ke kantor anda.
_______________________________________________________________
Hirarki Dalam Desain
Pernahkan anda membaca sebuah buku, publikasi, poster, brosur atau media desain yang lain, lalu anda menjadi pusing?
Bisa jadi karena desain publikasi tersebut tidak memperhatikan masalah hirarki. Semua informasi ingin disampaikan kepada pembaca. Biasanya hal ini terlihat pada penggunaan font yang besar-besar, bold tapi sayangnya sama besar. Sehingga kita menjadi bingung, mana informasi yang ditonjolkan.
Tantangan Desainer
Tantangan para desainer grafis adalah membuat desain yang dibuatnya menjadi se-komunikatif mungkin. Pembaca harus di ajak melihat pertama kali pada informasi terpenting, lalu yang terpenting kedua, ketiga dan seterusnya. Para desainer harus mempunyai persepsi bahwa para pembaca memiliki keterbatasan dalam perhatian dan tidak punya banyak waktu.
Oleh karena itu, sebelum melangkah pada pembuatan desain, ada baiknya desainer memahami dulu content yang akan dibuatnya. Agar urutan pembacaan desain oleh pembaca menjadi tepat dan sesuai sasaran.
Bukan Sekedar Menarik
Salah satu kesalahan para desainer grafis adalah membuat desainer sebagus mungkin tetapi melupakan masalah komunikasi. Para pembaca dibuat tertarik dengan permainan warna, modifikasi ilustrasi, dll, tetapi mereka sulit menemukan maksud utama dari desain tersebut. Pada akhirnya hal itu membuat ketidakefektifan desain.
Beberapa Sarana untuk Memperkuat Hirarki
Warna
Memainkan warna, misalnya antara judul utama, sub judul, bisa menentukan mana yang utama atau yang sekunder.
Jenis Huruf
Pemilihan font yang berbeda antara hal yang utama dan pendukung bisa mempermudah pembaca menemukan apa yang dicarinya dengan mudah.
Besar Huruf
Ada baiknya kita memilih besar huruf yang berbeda antara beberapa content yang berbeda dalam desain tersebut.
Penggunaan Ilustrasi artistik
Bisa jadi kita menambahkan kotak terarsir dengan warna halus untuk menegaskan sebuah informasi yang harus dilihat pertama kali oleh audience.
Yang Perlu Diperhatikan
Semua sarana di atas harus digunakan secara konsisten, apalagi jika kita harus membuat desain sejenis buku atau katalog produk. Ketidakkonsisten penggunaan sarana hirarki membuat pembaca bingung. Misalnya, jika untuk nama produk digunakan warna biru tua, maka seterusnya harus digunakan warna tersebut.
_______________________________________________________________
Ruang Kosong dalam Desain
Selama ini masih banyak yang belum memahami fungsi ruang kosong dalam desain. Kebanyakan mereka yang belum paham akan hal ini akan berkomentar “Kok ini dibiarin kosong?”, “Mubazir nih”, “Tulisannya gedein lagi dong biar nggak ada yang kosong”, dll.
Ruang kosong dalam desain memang terkesan “mubazir”, jika ia tidak difungsikan dengan benar. Tetapi jika memang ruang kosong itu disengaja ada, dengan maksud memperkuat komunikasi dalam desain tersebut, tentu ia menjadi bermanfa’at buat desain tersebut.
Analogi ruang kosong dalam desain seperti sebuah ruang terbuka dalam lingkungan atau seperti sebuah ruang keluarga yang lapang dalam sebuah rumah. Bayangkan jika kita tinggal di sebuah pemukiman yang sangat padat. Jalan-jalan disekitarnya hanyalah jalan-jalan kecil yang paling bisa dilewati motor. Tidak ada lapangan, temapat olahraga apalagi taman. Sangat berbeda dengan sebuah daerah pemukiman yang memiliki banyak ruang interaksi, tentu lebih nyaman untuk ditinggali.
Ruang kosong adalah tempat mata “berisitrahat”. Sebuah desain yang hanya berisi tulisan, tanpa ilsutrasi apa-apa, tentu akan membuat pembaca “pusing” atau lelah. Apalagi jika ternyata content-nya tidak begitu menarik buat si Pembaca. Di jamin, pasti ditinggalkan!
Ruang kosong juga bertugas mengisolasi informasi, sehingga para pembaca terfokus perhatiannya pada bagian yang kita beri ruang tersebut. Setelah itu, kita bisa memindahkan fokus pembacaan pada hirarki berikutnya dalam desain tersebut.
Tetapi tentunya ruang kosong harus benar-benar dipertimbangkan. Membuat ruang kosong, tanpa kemantapan konsep hanya menimbulkan kemubaziran. Apalagi kita hidup di Indonesia, di mana pemahaman akan hal ini masih lemah. Tentu menjadi tantangan buat para desainer atau mereka yang terbiasa membuat desain untuk mengoptimalkan semua kekuatan dan faktor desain agar menghasilkan desain grafis yang bagus dan komunikatif tentunya.
(HTR)
____________________________________________________________________________________________
Antibodi Kegagalan; Sukes Bukan Hanya “Bermodal Dengkul”
Oleh : Hendro Tri Rachmadi
Tidak pernah ada sesuatu yang bisa diperoleh hanya “bermodal dengkul”. Setidaknya itulah realita yang paling banyak terjadi.
Kita mungkin banyak menemui buku, tulisan atau training-training yang menggunakan slogan bombastis seperti: “Sukses hanya dengan bermodal dengkul” atau “Menjadi kaya dengan bermodal dengkul”. Hal ini sah-sah saja sebagai penarik para calon customer untuk membeli buku atau mengikuti seminar tersebut.
Namun sangat disayangkan jika efeknya justru hanya membuat orang bermimpi memiliki kesuksesan, tanpa serius berpikir bahwa untuk menjadi sukses “tidak sesederhana itu”.
Seringkali para motivator bisa membuat audience-nya begitu bersemangat untuk menjadi sukses pada saat training sedang berlangsung. Hal ini juga terjadi pada buku-buku motivasi yang banyak dijual di pasaran. Biasanya hal ini dilakukan dengan menceritakan serangkaian “kisah sukses” beberapa orang yang dikatakan berhasil. Dan seperti biasanya pula, para audience/pembaca menjadi begitu terpukau dengan hasil-hasil fantastis yang didapat orang-orang tersebut. Sekali lagi, hal ini sah-sah saja, mengingat memang kita butuh motivasi untuk bergerak, berusaha, dan maju untuk menjadi sukses.
Yang menjadi permasalahan adalah manakala para audience dan pembaca menjadi dibuat “mabuk” dengan keberhasilan dan mimpi, sementara mereka tidak dijelaskan secara proporsional tentang effort yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan kesuksesan tersebut. Sebab dalam realitanya orang-orang sukses harus mengalami serangkaian kegagalan untuk sampai pada posisinya yang sekarang.
Rasa sakit, rasa lelah, nuansa ketidakpastian, cemoohan orang, dikecewakan orang lain, ditipu, tidak mendapat dukungan dari orang-orang terpenting dalam hidup, pendapatan yang naik turun, terbelit hutang, dan masih banyak lagi item-item yang tidak enak yang harus “dirasakan” para pejuang untuk mendapatkan kesuksesan. Jika dijelaskan semua ini, mungkin akan banyak orang yang mulai berpikir ulang untuk “menjadi sukses”.
Sebagai akibatnya, hal-hal tersebut menjadi tidak populer untuk diceritakan. Ia hanya menjadi bagian pemanis -kalau tidak dikatakan sekedar pelengkap- dari training-training motivasi. Dan sebagai ending-nya, para peserta training atau para pembaca buku-buku motivasi, menjadi “shock” manakala dalam realitanya gambaran mimpi yang selama ini tergambar dalam benaknya tidak berhasil mereka raih.
Menceritakan secara proporsional hal-hal yang “tidak enak” dalam mengejar kesuksesan akan membuat para audience/pembaca membentuk “antibodi kegagalan”. Antibodi ini diperlukan mengingat perjuangan untuk mendapatkan kesuksesan bisa jadi sebuah jalan yang sangat panjang dengan nafas yang harus diatur secara baik.
Antibodi kegagalan sendiri terepresentasi dalam dua modal terbesar. Pertama adalah “keyakinan”. Kita harus yakin bahwa apa yang sedang kita lakukan ini memang sesuatu yang benar, dan kita berada pada jalan yang benar untuk mewujudkannya. Modal ini harus kuat-kuat kita miliki, mengingat di pertengahan jalan nanti, akan banyak orang atau pihak-pihak yang berusaha menggugurkan keyakinan kita. Mereka bahkan secara “sukarela” memberikan data dan fakta bahwa kita harus menyerah dan berhenti sampai di sini sebelum kesuksesan itu kita raih. Makanya, untuk menjadi sukses, yang pertama diyakinkan adalah kita sendiri, kalau pun kita harus sendirian dengan keyakinan tersebut, tidak mengapa. Sebab keyakinan tersebut yang akan menjadi bahan bakar kita untuk terus bergerak.
Antibodi kegagalan kedua adalah sabar. Dengan kesabaran, segala hal-hal yang “tidak enak” seperti disebutkan di atas lebih mungkin kita lalui dengan baik. Jalan panjang menuju kesuksesan adalah jalan yang tidak diperuntukkan untuk mereka yang ingin cepat mendapat hasil. Kesuksesan butuh proses. Seperti kita menanak nasi. Kalau pun panasnya kita tambah 2 atau 3 kalinya, tidak akan membuat nasi cepat masak. Salah-salah malah, nasi gosong yang kita dapat.
Ketahanan dalam menghadapi tidak enaknya gagal, hasil yang tidak seperti diharapkan, dll akan membuat kita bisa terus berjalan menuju kesuksesan. Kadang memang rasa sakit harus kita rasakan sebagai “harga” dari kesuksesan. Kadang pula kepahitan harus kita alami sebagai pondasi yang kokoh bagi kesuksesan. Soichiro Honda sendiri mengatakan, betapa orang-orang hanya senang membicarakan 1% kehidupannya (saat dia sukses), dan jarang membicarakan 99% kehidupannya (saat-saat dia gagal).
Kesabaran dalam menuju kesuksesan dengan berpegang pada keyakinan akan membuat kita lebih “mungkin” menuai kesuksesan. Mengapa dikatakan “lebih mungkin”? Sebab bagaimana pun, kesuksesan adalah hasil. Ia adalah hak Allah SWT untuk diberikan pada siapa yang dikehendakinya di dunia ini. Tugas kita hanyak bekerja, berusaha, berdo’a, dan bertawakal terhadap segala yang sudah kita lakukan. Masalah hasil itu adalah wilayah Allah SWt sebagai pemilik kita dan alam ini. Jadi memang setelah usaha keras yang kita lakukan, belum tentu kesuksesan itu kita raih, setidaknya di dunia ini.
Namun kabar gembiranya adalah, bahwa Allah Maha Adil dan memiliki serangkaian sunnatullah yang berlaku di alam ini. Buat mereka yang sudah memberikan effort terbaiknya, dan dikuatkan dengan niat yang ikhlas dan jalan yang tidak menyimpang dari aturan Allah SWT, maka pertolongannya akan turun dan membantu kita dari arah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Sehingga kita akan berkomentar “hal ini tidak kita perkirakan sebelumnya”, atau “saya tidak menduga mimpi ini bisa berhasil”, dll. (jangan lupa menambahkan alhamdulillah di depannya sebagai wujud “tahu diri” kita atas semua pertolongan Allah SWT).
Dan terakhir, kalau pun memang benar-benar mimpi-mimpi kita tidak terlaksana di dunia ini, kita harus yakin bahwa Allah tidak menyia-nyiakan semua yang sudah kita lakukan. PASTI, Allah swt ganti dengan yang lebih baik di akhirat. Atau sebenarnya, kalau kita mau “melek” sedikit, mungkin mimpi kita yang tidak terlaksana itu, sudah Allah ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Hanya saja dibutuhkan sedikit kecerdasan mata hati untuk bisa membacanya…
Selamat berjuang meraih kesuksesan!
Tetaplah berjuang menggapainya…
Betapapun lambatnya perjalanan kita, atau panjangnya jalan yang harus ditempuh, TETAPLAH BERJALAN, sebab kesuksesan adalah komitmen kita terhadap tujuan akhir.
Semoga Allah SWT meridhai semua langkah kehidupan kita…
Amiiin…
_________________________________________________________________
Beberapa stiker penguat motivasi “made in Simple Studio”
(Silahkan KLIK pada gambar untuk melihatnya secara penuh)
- Berilah yang terbaik, maka anda akan mendapat yang terbaik
- Orang-orang besar tidak dipengaruhi lingkungan, tetapi mempengaruhinya
- Hiburan seharusnya hanyalah selingan, sedangkan kerja keras adalah hal utama
- Kekalahan adalah musuh orang-orang gagal dan patner orang-orang sukses
- Kekalahan hanyalah pernyataan pikiran (David J. Schwartz)
- Masalah tidak dapat dihindari, tetapi dapat diselesaikan
__________________________________________________________________
Bagaimana mungkin Konsumen Mau Membeli Produk/Jasa Anda kalau DESAIN media Publikasi Anda “Njelimet-ribet- dan bikin Pusing?”
Kalau desain media publikasi anda, membuat calon konsumen “males” melihat apalagi membacanya, bagaimana mungkin dia mau membeli/menggunakan produk/jasa yang anda tawarkan
Insya Allah Kami punya SOLUSI-nya!
Segera hubungi kami di :
021-7097-2283 atau 0815-955-4548
________________________________________________________________
Tidak Ada yang Gratis dalam Kehidupan
Oleh : Hendro Tri Rachmadi
Perhatikanlah, bagaimana saat ini banyak orang-orang mengeluh dengan keluhan yang “berparadoks”. Di satu sisi mereka mengeluh tentang kehidupan mereka yang kian sulit. Namun di sisi lain mereka tidak melakukan banyak hal untuk keluar dari kesulitan tersebut.
Perhatikanlah bagaimana sebagian anak bangsa ini hidup dalam kesulitan, namun masih dengan orang-orang yang sama, mereka terlalu banyak menghibur diri. Persentase waktu yang mereka habiskan untuk bekerja masih lebih sedikit dibandingkan waktu yang mereka gunakan untuk menghibur diri.
Itulah mengapa, stasiun-stasiun televisi menangguk untung berlipat. Karena mereka “menghidangkan” begitu banyak acara hiburan dan sedikit sekali acara yang membuat penontonnya “bekerja”.
Perhatikanlah betapa banyak orang yang membuang waktunya dalam kesia-siaan. Padahal sebuah mimpi, cita-cita, harapan, dan keinginan harus diperoleh dengan kerja keras. TIDAK ADA YANG GRATIS DALAM KEHIDUPAN INI. Dan mungkin begitulah slogan yang tepat untuk membangunkan bangsa yang tertidur lelap.
Anda malas, maka bersiaplah menderita akibat kemalasan anda. Anda bekerja keras, maka Insya Allah, Rahmat Allah SWT bersama anda selama anda ikhlas bekerja dan melakukannya sesuai ketentuan Allah SWT.
Bangsa ini harus bangkit dari kelemahannya. Harus! Dan harus mereka sendiri yang melakukannya. Oleh karena itu, mulailah mematikan televisi manakala yang ditampilkan adalah sinetron yang menggambarkan mimpi-mimpi semu. Mimpi-mimpi yang terlalu ideal tapi seperti sulit dijangkau. Tentang anak manusia yang cantik-cantik dan tampan-tampan, hidup sudah dalam keadaan kaya dan sukses secara materi tapi tidak terlihat unsur perjuangan dalam mendapatkannya. Dan “kerjaan” mereka cuma bicara “cinta” yang sebenarnya cuma “nafsu” sesaat.
Mari selamatkan bangsa ini dengan mulai membuatnya bekerja mewujudkan mimpi. Saat ini keadaan seperti tak mendukung. Lihatlah sepanjang jalan yang anda lewati, mana yang lebih banyak, orang yang duduk-duduk, bercengkerama, santai, diam tak melakukan kegiatan produktif, atau mereka yang sedang bekerja keras mewujudkan mimpi?
Kita harus menyadarkan semua orang bahwa mereka harus bekerja, berkeringat, menguras semua potensi yang ada pada otak dan jasad mereka. Berlelah-lelah dalam konsentrasi dan aktivitas fisik. Semua demi mimpi-mimpi kebahagiaan yang sedang kita bangun.
Jangan ada lagi penganggur-penganggur di bangsa ini. Sebab penganggur bukanlah orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Penganggur adalah mereka yang tidak bekerja. Perhatikanlah, betapa antara orang yang memiliki pekerjaan tetap dengan orang yang bekerja bisa sangat berbeda 180 derajat!.
Dan mari mulai dengan diri kita yang membaca tulisan ini. Evaluasilah diri kita. Mana di antara 24 jam ini yang kita habiskan dalam kesia-siaan. Mana waktu-waktu yang produktif. Setelah itu perbaikilah! Dan jadilah lebih produktif!
Pada bagian akhir, jadilah kita bagian dari solusi atas permasalahan bangsa ini. Dan bukannya justru menjadi masalah bangsa ini.
Jadilah kita problem solver bagi bangsa ini. Dan bukannya sekedar menjadi problem speaker yang pada akhirnya hanya menjadi trouble maker bagi bangsa ini, sebagaimana pernah disebutkan seorang ulama shalih, almarhum Ustadz Rahmat Abdullah (semoga Allah meridhai beliau).
Jadi, selesai membaca tulisan ini. Mulailah mengerjakan pekerjaan produktif yang bisa kita lakukan. Dan jangan berhenti sebelum lelah, ada hal lain yang lebih penting atau saat Allah SWT menjemput kita dalam kematian yang diridhai-Nya. Amiiin.

No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]